LAUSANNE, SWISS – Masa depan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Indonesia dinilai tidak lagi cukup hanya berorientasi pada produksi listrik. Infrastruktur hidro ke depan diharapkan mampu memainkan peran lebih besar sebagai penyeimbang sistem kelistrikan sekaligus penyimpan energi.
Gagasan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat mengunjungi EPFL Hydropower Laboratory di Lausanne, Swiss.
Kunjungan itu menjadi momentum bagi Indonesia untuk melihat secara langsung perkembangan teknologi hidropower yang telah diterapkan di Swiss, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam pengelolaan pembangkit.
Di laboratorium tersebut, AHY meninjau fasilitas Technology Platform for Hydraulic Machines (PTMH) serta Hydraulic Constructions Platform (PL-LCH).
Sejumlah teknologi yang dipelajari mencakup digital twin water-to-wire, pengujian model hidrolik berskala dengan standar internasional IEC 60193, hingga sistem pemeliharaan prediktif yang memanfaatkan kombinasi sensor dan kecerdasan buatan atau AI.
Potensi Hidro Indonesia Masih Sangat Besar
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan energi hidro. Potensi energi air nasional diperkirakan mencapai 95 GW, namun pemanfaatannya hingga saat ini baru sekitar 8 persen.
Besarnya potensi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi air sebagai bagian dari transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
AHY menilai pengalaman Swiss dapat memberikan sejumlah pelajaran bagi Indonesia, khususnya dalam meningkatkan efisiensi, keandalan, serta kemampuan infrastruktur PLTA menghadapi perkembangan sistem energi modern.
Indonesia sendiri memiliki 302 bendungan nasional, sementara 22 waduk prioritas dan 15 danau juga tengah dikaji untuk mendukung pengelolaan sumber daya air.
Pengembangan teknologi pumped-storage turut menjadi perhatian. Salah satu proyek yang dikembangkan adalah PLTA Upper Cisokan di Bandung dengan kapasitas mencapai 1.040 MW.
“PLTA bukan lagi sekadar penghasil listrik biasa, melainkan aset penyeimbang jaringan (grid flexibility) dan penyimpan energi (energy storage) untuk menopang masuknya energi terbarukan secara masif,” kata AHY.
Optimalkan Infrastruktur yang Sudah Ada
AHY juga mendorong agar pengembangan infrastruktur hidro tidak selalu diterjemahkan sebagai pembangunan bendungan baru.
Menurutnya, peremajaan dan peningkatan kapasitas pembangkit yang telah tersedia perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan energi hidro nasional.
Dengan pendekatan tersebut, aset infrastruktur yang sudah dibangun dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sekaligus meningkatkan efisiensi investasi.
Untuk mendukung hal itu, pemerintah juga dinilai perlu memperkuat ekosistem penelitian nasional melalui pembangunan platform riset dan laboratorium independen yang melibatkan perguruan tinggi serta BUMN.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti dan dunia usaha diharapkan dapat mempercepat penguasaan teknologi hidropower di Indonesia.
Perkuat Ketahanan Air, Pangan dan Energi
Pengelolaan sumber daya air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan energi. Infrastruktur air juga memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan dan penyediaan air bersih.
Karena itu, pengembangan teknologi dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional.
Indonesia juga terus membuka ruang kerja sama dengan Swiss untuk bertukar pengalaman mengenai teknologi hidropower, pengelolaan air berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Melalui kerja sama dan alih teknologi tersebut, Indonesia diharapkan dapat semakin optimal memanfaatkan potensi energi air yang dimiliki sekaligus memperkuat ketahanan air, pangan, dan energi nasional.
Dalam kunjungan tersebut, AHY didampingi Duta Besar RI untuk Swiss merangkap Kepangeranan Liechtenstein I Gede Ngurah Swajaya, Deputi Infrastruktur Dasar Nazib Faizal, Staf Khusus Menko Infra Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menteri PU Ahmad Khoirul Umam, Tenaga Ahli Menko Infra Mira Permatasari, serta Diska Putri Pamungkas.
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan
Tags: AHY, Agus Harimurti Yudhoyono, PLTA Indonesia, energi hidro, energi terbarukan, EPFL Swiss, Hydropower Laboratory, Upper Cisokan, pumped storage, infrastruktur energi, Kemenko Infrastruktur






